Gedung BRI I & II, Jakarta
ada saat serah terima Kepala Kantor Cabang,
saya selalu menganalisa data, Neraca dan Rugi/Labanya terlebih dahulu. Dari
hasil analisa tersebut, biasanya saya selalu merubah Strategy baru untuk
meningkatkan performa. Karena performa ini yang kemudian akan dipakai oleh Direksi
untuk bahan promosi selanjutnya.
Di Cabang pertama, Atambua yang merupakan Cabang Rugi, saya menetapkan staregi
baru dengan memperbesar komposisi Kredit berbunga tinggi lebih besar
dibandingkan kredit berbunga rendah. Hanya dalam tahun kedua, Cabang rugi tersebut
berubah menjadi Cabang Untung. Kantor pusat melihat data tersebut. Oleh sebab
itu saya dipromosikan ke kota industry Kudus.
Di Cabang Kudus strategynya lain lagi. Ekspansi kredit difokuskan kepada
Nasabah nasabah lama yang selama ini pembayarannya lancar. Volume kreditnya
saya tingkatkan karena mereka adalah Nasabah yang setia, dipercaya akan
membayar pokok dan bunga tepat pada waktunya.
Dalam tahun ketiga, Cabang Kudus menjadi Cabang Nomor 3 paling untung diseluruh
Cabang di Jawa Tengah setelah Cabang Semarang dan Pati. Dari performa Cabang
Kudus, saya kemudian dipromosikan ke Cabang besar di Surabaya.
Di Cabang Pasarturi/Pahlawan, Surabaya strategynya sangat berbeda. Karena
volume kreditnya sudah sangat besar, maka permohonan kredit baru dibawah Rp 250
juta tidak saya layani lagi, kecuali nasabah lama. Mengapa ? Karena kredit
diatas Rp 250 juta, persyaratannya ketat sekali.. Pertama, Laporan keuangan
calon peminjam sudah diaudit oleh Akuntan publik. Kedua, jaminannya sudah dianalisa
oleh perusahaan Appraisal. Jadi saya kerjanya lebih ringan,
Sedang sektor usaha yang saya utamakan adalah pinjaman kepada bisnis disektor
export. Dengan strategy ini, % pertumbuhan bisa kelihatan dan mendapat
penilaian Direksi.
Demikianlah grand strategy yang saya terpkan. Sedang strategy operasional
lainnya akan diuraikan dalam penjelasan berikutnya.
Khusus mengenai pelayanan nasabah saya menerapkan strategy “Pelayanan lebih
baik dari Bank Swasta”.
Karena di dunia perbankan ada semacam ukuran keberhasilan sebagai bench mark
yaitu apabila Bank BUMN
bisa memberikan service yang sama bagusnya dengan Bank swasta, berarti Bank tersebut masuk kategori istimewa
dan apabila pelayanannya justru lebih
baik, itu pantas disebut “excellence”.
Performance
BRI Atambua
Mengingat di kota kecil Atambua adalah kota kecil, Bank hanya ada dua,
BRI dan Bank NTT sehingga persaingan tidak terasa sama sekali. Tidak perlu
strategy operasi macam acam. Yang penting adalah strategy bagaimana agar Kantor
Cabang ini tidak rugi lagi, seperti diceritakan diatas.
Hasil strategy tersebut tanpa sengaja
diketahui oleh Direksi pada sat rapat kerja Kepala Cabang se NTT di Kupang. Pada
rapat tersebut mendadak kami 2 orang diminta mempresentasikan performance
Cabang masing masing di 2 (dua) whiteboard yang berbeda.
Grafik Bapak Munari,
Cabang Waikabubak, menggambarkan garis garis yang menurun atau merugi.
Sebaliknya, gambar saya menunjukkan grafik
yang untung, walau jumlah kredit baru Rp 2,5 miliar. Itulah hasil strategy baru yang saya
terapkan.
Di tengah tengah sesi
tanya jawab, Pak
Hartono setengah bergurau mengatakan: “Direksi
tidak salah mempromosikan Saudara pindah ke Cabang Kudus”, katanya. Tahun itu total
pinjaman BRI Kudus relatif
besar, Rp 19 miliar, meningkat 800% besarnya disbanding
Cabang Atambua. Pak Hartono menambahkan “Jika performance Saudara tidak bagus, Surat Keputusan bisa diralat”,
katanya dengan disambut tepuk
tangan peserta Raker.
Sebelum Direksi kembali ke Jakarta, pada saat makan malam di restoran hotel
Flobamora, saya mendapat kehormatan untuk duduk semeja dan berbincang langsung dengan
Bapak Direktur, Kakanwil dan Ny.
Sembiring (drg), istri
auditor.
Cabang Inpres
yang untung
Bank BRI Cabang Atambua
termasuk salah satu dalam Cabang Inpres (Instruksi Presiden) yang mendapat
subsidi biaya operasional dari
Pemerintah untuk membuka Kantor Cabang di daerah daerah terpencil, yang secara bisnis
tidak feasible untuk menunjang pembangunan daerah. Itu diera Soeharto.
Dua Cabang tetangga di Pulau Timor juga Cabang Inpres yaitu
Cabang SoE yang dipimpin oleh Pak Untung dan Cabang Kefamenanu di dipimpin Pak Ktut.
Karena statusnya sebagai Cabang Inpres, adalah konsekwensi logis
apabila Cabang Atambua yang diserah
terimakan pada tanggal 23 Januari 1981 dari Sdr. Muhamad
Tahir Selo, dalam posisi merugi sebesar Rp 15,5 juta.
Namun hanya dalam tahun
kedua dengan Strategy yang tepat, status ini saya
balik menjadi status untung, walau hanya sedikit, sebesar Rp.4,9 juta dan pada tahun berikutnya baru meningkat
menjadi Rp 44,3 juta.
Angka keuntungan ini bisa dicapai dengan Strategy baru, merubah komposisi pinjaman.
Pada saat serah terima, komposisi antara
kredit program dengan kredit non program adalah 82% : 18%, Lalu dan pada tahun
kedua, komposisi ini saya rubah menjadi
59% : 41%.
Dengan konsentrasi ke kredit
non program berbunga tinggi, pendapatan
bunga langsung melecit, dapat menutup semua biaya operasional dan bahkan mampu mencetak laba.
Walaupun proporsi kredit program berbunga rendah (yang disubsidi
Pemerintah) diperkecil, saya masih sempat melaksanakan
program ketahanan pangan, memberi kredit BIMAS dan kredit Investasi (dua unit truk Mitsubishi) kepada masyarakat di Kabupaten
Bobonaro, Timor Timur.
Program Pemerintah tersebut mutlak harus dilaksanakan mengingat BRI adalah Agen
pembangunan, Agent of development.
Di pintu-pintu truk sengaja saya cat logo BRI dalam ukuran besar, agar tamu tamu Luar Negeri
yang datang ke Maliana bisa mengetahui bantuan Pemerintah Indonesia ke Timor Timur melalui Bank BRI.
Pemberian
kredit program ke Propinsi Timor Timur ini diyakini nantinya akan menunggak, tetapi risiko
tersebut sudah saya perhitungkan.
Saya memikirkan strategy khusus agar Cabang Atambua jangan sampai rugi. Saya
tutup asuransi kreditnya ke P.T.Askrindo, milik pemerintah. Risiko ini nanti akan diclaim ganti rugi ke Asuransi jika nasabah tidak membayar kembali.
Untuk itu kami dengan seksama menyiapkan dokumen lengkap, agar
Asuransi tidak menolaknya.
Panen jagung bersama 2 Direktur BRI
Penghargaan
Tidak hanya untung rugi yang menjadi
missi Bank BRI, tetapi sebagai Agent of development ikut aktif membantu program
Pemerintah termasuk program Ketahanan Pangan..
Itu yang kami lakukan pada tahun 1982.
Gubernur Mben Byoy menunjuk Kabupaten Belu sebagai
pelaksana program pertanian yang diberi nama “Lorosae’. Program ini untuk menyediakan bibit jagung, untuk digunakan sebagai bibit di
seluruh kabupaten di NTT pada musim tanam berikutnya.
Untuk itu,
BRI Atambua yang saya
nakhodai berfungsi menyediakan modal kerja bagi petani jagung. Luar biasa, hanya
dalam satu musim tanam, kredit tersebut “lunas”.
Hal ini dapat terjadi berkat solidnya kerjasama Tim antara Pemda, Bank BRI, Dinas Pertanian
dan PT. Pertani (sebagai
pembeli), yang
kemudian oleh PT. Pertani mendistribusikan
semua jagung ke semua Kabupaten di propinsi NTT melalui pelabuhan di Atapupu.
Atas keberhasilan tersebut, Bapak Martono, Kakanwil BRI Kupang mengusulkan ke Kantor Pusat BRI agar saya diberi “
Surat Penghargaan”. Walau tidak menjadi kenyataan, saya
sendiri tidak kecewa, karena penghargaan itu bukan tujuan, akan tetapi
merupakan indikasi potensi diri sendiri dan menjadi modal untuk maju ke depan.
Pembangunan
Kantor baru
Setelah
menempati bangunan Kantor
dan dua rumah dinas kontrakan yang
panas disiang hari karena
tanpa plafond, akhirnya saya membeli sebidang tanah
di pinggiran Pasar Baru. Luas tanahnya cukup untuk membangun
Kantor dan Rumah dinas, berdampingan. Bangunan tercantik di
Atambua ini merupakan hasil karya yang akan dikenang oleh karyawan
Atambua.
Gedung ini dipakai selama 30 tahun untuk kemudian dibongkar dan diganti
bangunan baru yang modern pada tahun 2012/2013.
Tidak hanya itu, sebelum pindah ke Kudus, Jawa Tengah tahun 1984, sempat saya mendirikan Koperasi Karyawan.
Koperasi ini kemudian saya beri kredit untuk membeli tanah untuk komplek
perumahan dan dijual kepada karyawan BRI.
Performance
BRI Kudus
Kota Kudus adalah
kota Kabupaten, jadi
relatif kecil. Namun demikian, di
kota ini disesaki oleh industri
dan dijejali pula oleh 8 bank,
4 bank BUMN dan 4 bank swasta.
Bank BCA, Bank Niaga, Bank Rama dan Bank Jateng. Bank BNI, Bank BDN/Mandiri. Dan memang
begitulah prinsip keuangan, di mana ada gula di situ ada semut, di mana
bisnis berkembang, Bank Bank pasti mengikutinya.
Dampaknya, persaingan Bank sangat
ketat dan saling rebut
rebutan nasabah. Nasabah menjadi manja, persis kata pepatah: customers
are really kings.
Untuk itu perlu strategy khusus dalam bersaing dengan Bank Bank lainnya. Rekan rekan Kepala Cabang
Bank swasta di Kudus dengan tulus mengakui bahwa pelayanan BRI memang lebih baik. Pelayanan
tersebut terutama tentang kecepatan
pelayanan di counter, penyelesaian inkaso ke Cabang lain, dan keberanian
pemberian kredit yang lebih besar.
Oleh sebab itu jangan heran di tahun 1984 servis yang
kami berikan betul betul excellence.
Coba simak contoh berikut ini:
1. Di ruang tamu dengan percaya diri saya
tempel sign: “Pelayanan lebih dari 5
menit lapor Pimpinan”. Di bawahnya dipasang jam bulat. Suatu sikap yang
sangat berani pada tahun
1984 yang lalu.
2. Setoran nasabah setiap hari dijemput
oleh mobil dinas BRI dengan jadwal tetap atau melayani telepon nasabah untuk
menjemput setoran.
3. Penyelesaian inkaso (cek atau giro Bank luar kota) melalui Cabang BRI dikota lain relatif cepat, secepat
Bank swasta, karena saya memonitor secara ketat setiap harinya. Apabila sampai
seminggu belum menerima hasil inkaso, saya langsung menelepon Kepala Cabang di
kota lain.
Salah satu Kepala Cabang
yang saya tepon ilah sahabat
saya, Gde Sukarna, Kep Cabang Banjarmasin dengan kaget
dia berkata: “Saya
tidak tahu kalau staf saya menahan inkaso, menunggu nasabahnya setor dulu,” jawabnya.
Nada yang sama diungkapkan
oleh Operation Officer BRI Cabang Rembang, Jawa Tengah: “Pak Situmeang itu
mau jadi apa, sampai ikut menangani inkaso,” jawabnya kepada staf BRI Kudus
yang menanyakan penyelesaian inkaso yang relatif lambat.
Untuk mempercepat pelaynan, nasabah BRI
Kudus bisa dibukakan Rekening Giro Cabang Tanjung Mas, Semarang. Distributor dan
mobil mobil box dari luar kota yang memasarkan barangnya
di kota Kudus bisa
memi;ih pembayaran dengan cek dan bilyet giro BRI Kudus atau BRI Semarang, karena transfer
inkasonya cepat, secepat Bank swasta.
Berbicara mengenai Kudus, tidak mungkin
kalau tidak bersinggungan dengan Industri
rokok, pabrik kertas dan percetakan PURA dan….Jenang. Denyut nadi kehidupan
termasuk dunia bisnis terkait secara langsung/tidak langsung dengan bisnis
tersebut.
Strategy pinjaman
Setelah mengevaluasi nasabah nasabah lama saya melihat kesetiaan ereka membayar
bunga dan pokok tepat pada waktunya. Oleh sebab itu saya intensifkan
memperbesar volume kreditnya. Saya yakin pasti semua akan berjalan lancar.
Kendalanya adalah, Staf pinjaman belum terbiasa dengan plafond kredit
menengah/besar. Rata rata sekitar Rp 20 juta/nasabah, kecuali percetakan besar
PT.Pur Baru Tama. Mereka kaget menangani kredit berplafond besar hingga ratusan
juta rupiah.
Selangkah lebih maju
Stategy saya untuk menggaet nasabah Bank lain kurang mendapat dukungan dari
Kantor Pusat di Jakarta. Terkadang saya melangkah lebih cepat dari Kantor Pusat
yang belum bisa untuk memenuhi permintaan nasabah besar.
Contoh pertama, dengan segala upaya saya mendekati Pabrik Rokok Djarum untuk menjadi nasabah BRI Kudus, dan
berhasil. Hanya saja mereka meminta kredit Investasi untuk impor mesin dalam valuta France Swiss. Sayang
sekali, Kantor Pusat BRI tidak bisa menyediakan VALAS ini.
Dengan rasa kecewa saya menyatakan itu kepada Dirut BRI, Bpk Kamardy Arief di dalam Rapat Kerja
di Semarang.
Dengan halus saya berkata: “Saya gelo BRI tidak mampu melayani Pabrik Rokok Djarum”. Sebelum berkata begitu saya bertanya kepada teman yang duduk di
sebelah saya: “Apa kata halus kecewa dalam bahasa Jawa?”. Rupanya pertanyaan
saya didengar oleh Bapak Dirut melalui mike dan beliau nyeletuk: “Apa bahasa Batak kecewa”, katanya, yang
disambut tawa seluruh peserta rapat.
Contoh
kedua, Saya berusaha menggaet Nasabah giro yaitu Kantor Kas Negara atas cukai
tembakau.dari Bank BDN/Mandiri.
Instansi gemuk ini pun berhasil saya bujuk untuk menempatkan Dana raksasa Cukai itu di BRI. Kesepakatan dicapai, di mana BRI diminta
memasang komputer di Kantor Bea dan Cukai yang online real time dengan komputer di
BRI, sehingga diketahui saldo Rekening Giro oleh pejabat Bea dan Cukai setiap saat. Untuk merespon
permintaan itu, Staf IT Kantor Pusat
BRI “segera” datang ke Kudus.
Sekali lagi saya merasa gelo, permintaan Bea dan Cukai ini belum
dapat dipenuhi, mengingat di tahun 1984 teknologi real time online
relatif masih sulit.
Pimpinan BRI Sekeresidenan Pati, Jateng
Nasabah inti
Stategy yang lain adalah bagaimana menjaga agar Nasabh inti jangan sampai
direbut oleh Bank lain. Saya terus mendekati pemilik fabrik kertas PT.Pura Baru
Tama ini beserta inner circlenya.. Kami sering diajak kebaktian di Semarang dan
juga bersama sama membantu masyarakat yang dilanda angin puting beliung di Desa
Sampitan, kaki Gunung Merapi di Salatiga.
Hanya dengan PT.Pura Baru Tama, gaji pegawai Bank BRI setiap bulan dapat
ditutupi. Jadi sangat penting dijaga karena Bank lain sering menggodanya.
Pabrik kertas PT. Pura Barutama yang mampu
memproduksi uang kertas untuk salah satu negara di Afrika. Pabrik dengan mesin mesin Jerman, yang
sudah berdiri sejak zaman Belanda dan diwariskan kepada Jacobus Busono ini
sudah puluhan tahun menjadi nasabah
inti BRI Kudus dan tidak pernah tergoda untuk berpaling ke Bank lain.
The best tree
Selama 3 tahun kepemimpinan saya, BRI Kudus bisa mencapai rangking ketiga
dari segi keuntungan dari seluruh cabang se Jawa Tengah yaitu setelah Cabang Pati dan Semarang.
Cabang Kudus mencapai prestasi tersebut karena didukung oleh kredit di sektor industri dan perdagangan. Sedang
Cabang Pati didukung oleh
kredit program Pemerintah, kredit TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) untuk mensuplai
pabrik pabrik gula
yang ada di Kabupaten Pati.
Bapak Agus, Kepala Cabang BRI Pati merasa kehilangan, waktu saya
dipromosikan menjadi Kep
Cabang Pahlawan, Surabaya. Dalam sambutannya di antara teman teman para Kepala Cabang dan istr se Karesidenan Pati
menyatakan: “Pak Situmeang itu merupakan teman dan saingan saya dalam arti positif”
dengan senyumnya yang khas. Dia pernah kesal karena saya
berhasil menggaet pabrik kacang terkenal Dwi Kelinci, yang pabriknya masuk
wilayah Kabupaten Pati.
Sedang empat
Cabang BRI lain di Karesiden
Pati yaitu Cepu, Blora, Rembang dan Jepara merupakan cabang dengan konsentrasi
kredit di sektor pertanian. Hanya cabang Jepara memiliki karakteristik khusus
yaitu kredit untuk industri mebel ukir yang terkenal kualitasnya.
Akhirnya,
cabang dengan peringkat ketiga di Jawa Tengah ini saya serah terimakan kepada
senior saya Bapak Djumeri. Kariernya
bersinar, melecit menduduki
kursi Direksi Bank Industri, anak perusahaan BRI. Sayang teman olahraga saya ini berpulang akhir
tahun 2006.
Perkenalan di Kanwil BRI Surabaya
Cabang Terakhir
Di suatu
pagi, sebelum kantor buka, telepon rumah berdering. Di ujung telepon, suara
yang tidak asing di telinga saya berkata: “Selamat Pak Situmeang, Saudara
dipromosikan ke Cabang Pasar Turi, Surabaya”, katanya (Sekarang
Cabang Pahlawan). Sebelum Bapak Martono, Kakanwil Semarang
itu menutup teleponnya, dia tiak
lupa menambahkan: “Jangan lupa nanti kalau menjadi Direktur”, kata
atasan saya itu.
Telepon itu sangat mengejutkan, bahkan kalau boleh jujur jalur menuju ke
kursi Direktur ? Itu tidak terlintas sama sekali dalam angan angan, karena
hubungan saya dengan Kantor
Pusat tidak ada yang
istimewa, apalagi office politic dan golf, saya tidak pernah ikut.
Prestasi saya yang menonjol
di dua Kantor Cabang hanyalah keberhasilan mengelola Kantor Cabang Atambua
berasset Rp 2,5 miliar dan Cabang Kudus Rp 19 miliar. Itulah sebabnya, para nasabah BRI heran,
kok saya bisa masuk Surabaya berasset Rp 391 miliar. Bahkan mereka belum pernah
dengar nama saya.
Belum sempat bernapas, tiba tiba sebuah pabrik
kertas besar di Surabaya pindah dari Bank Asing di Jakarta menjadi nasabah Cabang Pasar Turi dengan pinjaman
Rp 96 miliar di tahun 1987.
Dengan tambahan portofolio sebesar itu, cabang ini menjadi cabang terbesar
kedua setelah Kantor Cabang Khusus (KCK) BRI Jakarta.
Pekerjaan cukup repot, sibuk, di
mana saya masih mencoba menata ulang semua aspek, termasuk memerangi “mafia percaloan” kredit. Di
kalangan BRI di kota Surabaya, terasa sekali ada beberapa grup pengusaha yang
ikut mengatur, terutama menyangkut pinjaman.
Belum lagi transaksi Letter of Credit (L/C) yang cukup padat dan memerlukan kehati hatian, satu dan lain hal karena saya berasal dari dua Kator Cabang non devisa, yang belum berpengalaman melayani
transaksi ekspor dan impor.
Cabang
di kota besar mendaat tantangan yang cukup berat dari para Nasabah besar, yang
sangat dekat hubungannya dengan Direksi. Suatu saat Nasabah besar tsb ingin
minta kredit besar untuk fabriknya di luar kota, di kota Jember.
Dalam kunjungan tersebut, terasa
sekali bahwa pabrik itu sudah
disulap semalam, sebelum
saya tiba, untuk mempengaruhi permohonan kreditnya. Dengan tegas, nasabah yang
sangat dekat dengan seorang Direktur itu
mengatakan: “Jika Bapak tidak bisa mengabulkan kredit saya, Bapak bisa saya
pindah”. Dengan santai saya jawab: “Lebih baik pindah sekarang daripada
pindah kemudian dengan kredit bermasalah”.
Pengalaman lain adalah penawaran ikut
saham dalam perusahaan yang akan mengajukan kredit. Usaha ini mereka lakukan
dengan menelepon istri saya yang masih tinggal
di kota Kudus. Dengan tegas saya meminta istri saya menolak namanya dan
nama anak kami menjadi
pemegang saham.
Gedung BRI I Jakarta
Rupanya usaha saya memerangi mafia itu
terbentur tembok. Saya belum siap masuk ke Cabang besar dan network di Kantor Pusat juga tidak
punya, maka serangan mafia itu dan pengaruhnya sangat tangguh.
Untuk tidak mengganggu bisnis mereka, saya pun pindah ke Kantor Pusat pada tahun 1987. Selamatlah saya dari serangan mafia Berakhirlah
jabatan saya di operasional di Kantor Cabang. Mulailah menjadi Kepala Bagian
dan Wakil Kepala Urusan/Divisi, Eselon II, di Kantor Pusat dengan segala
suka-dukanya.
Jabatan Struktural
Selama 8 tahun di Kantor Pusat Bank
BRI, jabatan struktural yang saya duduki ada di 4 unit. Mulai dari Kabag
Pembinaan BRI Unit dibantu dua orang Wakabag, Noor Rochmah dan Rulianti.
Setahun kemudian, dipromosi menjadi Wakil Kepala Urusan/Divisi BRI Unit, termasuk dalam level/Eselon II, satu level dengan Kepala
Divisi, Bp. Trisulo, mantan atasan saya
sebelumnya yaitu Kakanwil di
Surabaya. Duduk diposisi ini
cukup lama, 4 tahun,
sebelum dipindah menjadi
Wakil Kepala Divisi Operasional bersama Bp. Bambang Swasono sebagai
Kepala Divisi di Gedung BRI II Lantai 5, sebelah Timur, langsung
menghadap Universitas Atma
Jaya.
Belum sempat
saya berbuat banyak di
Divisi Operasional, kemudian
dipindah lagi ke Divisi Perencanaan dan Litbang di gedung dan lantai yang
sama, tetapi menghadap ke sebelah Barat, tetap
sebagai Wakil Kepala Divisi mendampingi Bp. Soesetyoadi sebagai Kepala Divisi.
Selama di Divisi baru
ini, saya secara berkala berhubungan
langsung dengan Direktur Bidang
Perencanaan dan Litbang,
Bp. Setiyoso, Komisaris Utama BCA sampai tahun 2013.
Dihitung
sejak menduduki kursi Wakil Kepala Divisi BRI Unit hingga ke Divisi Perencanaan dan Litbang tahun 1988
hingga pensiun muda tahun 1995, saya menjabat di level Eselon II cukup
lama, selama 7 tahun.
Sertifikat juara terbaik
PESERTA TERBAIK SESPI BANK
Sebelum ditransfer ke Divisi Operasional, pada tahun 1992, saya ditugaskan
selama tiga bulan mengikuti Sekolah Staf Pimpinan Bank, angkatan VIII. SESPI
BANK ini adalah Sekolah tertinggi di lingkungan
Perbankan Nasional, diikuti oleh pejabat pejabat pilihan dari Bank BUMN dan Bank Swasta Nasional dan Bank Pemda.
Kami, peserta kursus sejak awal mengikuti kursus seperti
biasa, tidak menyadari bahwa setiap kelas dan setiap diskusi selalu dicatat, dievaluasi dan
dinilai untuk menentukan peserta terbaik. Tidak
seorang peserta mengetahuinya.
Oleh sebab itu saya terkejut ketika upacara penutupan berlangsung, saya ketemu seorang pengajar di
kamar kecil dan mengatakan : “Pak,
jangan kaget, Bapak menjadi juara II”, katanya.
Benar saja, pada acara
penutupan, Pak Sutopo dan saya dipanggil ke depan dan untuk menerima sertifikat
dari tangan Gubernur Bank
Indonesia, Bp. Syahrir Sabirin, rekan seangkatan saya dulu di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta
tahun 1968. Sungguh diluar
dugaan, saya termasuk the best Banker.
Ada sedikit rasa kecewa atas pemberian Serifikat tsb karena nilai akhir
nya. Dari 25 peserta saya mestinya peringkat
I, karena Sdr. Sutopo, Kepala Cabang BDN Cabang Kebon Sirih, mestinya gugur, disqualified,
karena dia batal ikut
ke Manila dan Bangkok sebab istrinya masuk rumah sakit.
Tetapi karena training ini sifatnya
bukan pertandingan, makanya saya menerima saja tanpa protes. Saya sangat puas
bisa menjadi peserta terbaik di Kursus Calon-calon Direksi Perbankan.
Sebelum
meninggalkan kursus di LPPI Kemang,
Jakarta Selatan, Gubernur BI, Pak Syahrir Sabirin
dengan senyum khasnya memberitahu Direktur saya yang hadir, bahwa kami
adalah teman lama dulu di Fakultas Ekonomi Gama di Yogyakarta.
Keliling Indonesia
Dalam menjelankan tugas
di Kantor Pusat, saya baru sempat mengunjungi 16 dari 26 provinsi, mulai
dari Aceh, Sumut, Sumsel, DKI Jakarta, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTT, Kalbar,
Sulsel, Sulteng, Sulut, Maluku, Papua dan Timor Timur. Tugas pokok saya adalah mengawasi BRI
Unit, rekrutmen pegawai BRI Unit dan proyek komputerisasi. Pernah juga
mendampingi Dirut mengadakan tes performance Kepala kepala Cabang BRI se-Jawa Timur di
Surabaya.
Yang paling
berkesan adalah program komputerisasi akuntansi Bank BRI ditingkat
kecamatan/pedesaan, dan juga rekrutmen calon pegawai
Di Palembang. Seorang mahasiswi
semester awal yang belum pernah keluar negeri bisa berbicara bahasa Inggris
dengan fasih. Kesan lain adalah rekrutmen pegawai betul betul murni tanpa mengenal titipan dan
uang.
Beberapa
kali mengunjungi beberapa BRI Unit di Aceh dan pernah makan sate Padang di
malam hari di suatu lapangan terbuka, yang saya tahu persis ikut diterjang
tsunami tahun 2004.